Sabtu, 02 Juni 2012

cana indica


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bunga Tasbih yang selama hanya dimanfaatkan sebagai tanaman penghijau di pinggir-pinggir jalan saja serta hidup liar di dalam hutan, tetapi sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai obat.
Bunga tasbih (canna indica linn) yang biasa dikenal di Jawa Barat sebagai Ganyol Leuweung serta dalam Bahasa Melayunya Gany Hutan dapat tumbuh 1000 dpl ini memiliki rimpang layaknya umbi, daun besar, warna bunga cerah (merah, kuning), bijinya bulat layaknya buah tasbih.
Tanaman kana yang dikenal sebagai bunga tasbih, umumnya tumbuh liar di pinggir-pinggir sungai atau hutan. Nilai hias flora kana terletak antara pada seluruh sosok tanaman, terutama pada kuntum bunga. Penggemar tanaman hias menyebut bunga kana sebagai “Puspa Medra” atau “Kembang Gedang”.
Bila musim bunga kana tiba, lingkungan sekitarnya amat indah bagai “pesta bunga semusim” sebuat taman. Warna bunga kana amat jelita, antara lain merah tua, merah muda, kuning cerah, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Tanaman kana mulai didomestikasikan sebagai ornamen pinggir jalan raya, taman kota, dan flora hias pot. Adapun bunganya cocok dipajang dalam jambangan sebagai bunga potong pengindah ruangan.
Tanaman kana mempunyai banyak variasi jenis atau spesies, termasuk kana hibrida (Canna hybrida Hort. Ex. Back). Tanaman ini belum mengalami pemuliaan secara luas, karena nilai ekonomisnya belum banyak diungkap. Kana hibrida merupakan hasil persilangan alami yang belum diketahui kedua induk atau tetuanya.
Tanaman kana dapat digunakan sebagai tanaman pembatas (border) taman, hamparan khusus (bedding) dan latar belakang atau pelengkap sudut taman. Untuk menyerasikan tanaman kaur dengan lingkungan sekitarnya diperlukan imajinasi dan keterampilan bidang pertamanan.



1.2  Tujuan
1.      Untuk mrngetahui anatomi batang, daun, akar dan biji Canna indica





BAB II
DASAR TEORI
2.1 Klasifikasi Canna indica
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas        : Commelinidae
Ordo                : Zingiberales
Famili              : Cannaceae
Genus              : Canna
Spesies            : Canna indica L (Anonymous.2010)
2.2 Deskripsi Singkat Canna indica
Terna berimpang, tegak. Rimpang bercabang horizontal, panjangnya dapat mencapai 60 cm, dengan buku-buku yang berdaging menyerupai umbi, tertutup dengan sisik daun, dan serabut akar yang tebal. Batang berdaging, muncul dari rimpang, seringkali berwarna ungu. Daun tersusun secara spiral dengan pelepah besar terbuka, kadang-kadang bertangkai daun pendek; helaian daun membundar telur sempit sampai menjorong sempit. Perbungaan di ujung ranting, tandan, biasanya sederhana tetapi kadang-kadang bercabang, muncul tunggal atau berpasangan, tidak teratur, bunga biseksual. Kelopak membundar telur, mahkota memita, berwarna merah pucat sampai kuning, bibir bunga melonjong-membundar telur sempit, berbintik kuning dengan merah. Buah kapsul, membulat telur, merekah, bagian luar dengan duri-duri lunak. Biji banyak, membulat, halus dan keras, kehitaman sampai merah tua.


3.2 Jaringan pada Tumbuhan
Jaringan tumbuhan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk, fungsi, serta sifat-sifat yang sama. Jaringan ini menyusun dirinya sendiri menjadi sebuah pola yang jelas dalam keseluruhan bagian dari tumbuhan tersebut.
Secara garis besar jaringan penyusun tumbuhan dapat dibedakan menjadi:
1.       Jaringan Meristem
Adalah jaringan yang sel-sel penyusunnya mampu terus-menerus membelah diri dan merupakan sel muda yang belum mengalami diferensiasi atau spesialisasi. Ciri-cirinya adalah berdinding tipis, banyak mengandung protoplasma, vakuola kecil dan tersebar di seluruh protoplasma, inti besar dan plastidanya berupa protoplastida.
Berdasarkan asalnya meristem dibagi menjadi:
a.      Jaringan meristem primer
Jaringan meristem yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari pertumbuhan embrio. Contoh: ujung batang, ujung akar. Meristem yang terdapat di ujung batang dan ujung akar disebut meristem apikal. Kegiatan jaringan meristem primer menimbulkan batang dan akar bertambang panjang. Pertumbuhan jaringan meristem primer disebut pertumbuhan primer.
b.      Jaringan meristem sekunder
Jaringan meristem sekunder adalah jaringan meristem yang berasal dari jaringan dewasa yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan jaringan meristem sekunder disebut pertumbuhan sekunder. Kegiatan jaringan meristem menimbulkan pertambahan besar tubuh tumbuhan. Contoh jaringan meristem skunder yaitu kambium.
Kambium adalah lapisan sel-sel tumbuhan yang aktif membelah dan terdapat diantara xilem dan floem. Aktivitas kambium  menyebabkan pertumbuhan skunder, sehingga batang tumbuhan menjadi besar . Ini terjadi pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae(tumbuhan berbiji terbuka ).
Pertumbuhan kambium kearah luar akan membentuk kulit batang, sedangkan kearah dalam akan membentuk kayu.Pada masa pertumbuhan, pertumbuhan kambium kearah dalam lebih aktif dibandingkan pertumbuhan kambium kearah luar, sehingga menyebabkan kulit batang lebih tipis dibandingkan kayu.
Berdasarkan letaknya jaringan meristem dibedakan menjadi tiga yaitu meristem apikal, meristem interkalar dan meristem lateral.
a.      Meristem apical
Meristem apikal adalah meristem yang terdapat pada ujung akar dan pada ujung batang. Meristem apikal selalu  menghasilkan sel-sel untuk tumbuh memanjang.Pertumbuhan memanjang akibat aktivitas meristem apikal disebut pertumbuhan primer. Jaringan yang terbentuk dari meristem apikal disebut jaringan primer.
b.      Meristem interkalar
Meristem interkalar atau meristem antara adalah meristem yang terletak diantara jaringan meristem primer dan jaringan dewasa. Contoh tumbuhan yang memiliki meristem interkalar adalah batang rumput-rumputan (Graminae). Pertumbuhan sel  meristem  interkalar menyebabkan pemanjangan batang lebih cepat, sebelum tumbuhnya bunga.
c.       Meristem lateral
Meristem lateral atau meristem samping adalah meristem yang menyebabkan pertumbuhan skunder. Pertumbuhan skunder adalah proses pertumbuhan yang menyebabkan bertambah besarnya  akar dan batang tumbuhan. Meristem lateral disebut juga sebagai kambium. Kambium terbentuk dari dalam jaringan meristem yang telah ada pada akar dan batang dan membentuk jaringan skunder pada bidang yang sejajar dengan akar dan batang.
2.       Jaringan Dewasa
Jaringan dewasa adalah jaringan yang sudah berhenti membelah.Jaringan dewasa dapat dibagi menjadi beberapa macam :
a.      Jaringan epidermis
jaringan-epidermis merupakan jaringan yang letaknya paling luar, menutupi permukaan tubuh tumbuhan. Bentuk jaringan epidermis bermacam-macam. Pada tumbuhan yang sudah mengalami pertumbuhan sekunder, akar dan batangnya sudah tidak lagi memiliki jaringan epidermis. Fungsi jaringan epidermis untuk melindungi jaringan di sebelah dalamnya.
1)      Stoma merupakan lapisan epidermis yang membetnuk bangunan khusus, tersiri dari dua sel penutup yang mengapit celah dsan dikelilingi oleh epidermis lain yang disebut sel tetangga.
2)      Trikoma adalah tonjolan epidermis yang terdiri dari satu atau lebih sel, yang berfungsi sebagai pelindung dan penyerap unsure hara.
3)      Exodermis dan endodermis terbentuk dari lapisan sel-sel di sebelah dalam epidermis yang mengalami penebalan dengan lignin. Penebalan tersebut dapat merata atau hanya berupa pita (pita caspary)
4)      Sel gabus merupakan hasil pembelahan cambium gabus. Sel-selnya mati. Dindingnya terdiri  dari suberin sehingga tidak tembus udara dan air.
b.      Jaringan Parenkim
Nama lainnya adalah jaringan dasar. Jaringan parenkim dijumpai pada kulit batang, kulit akar, daging, daun, daging buah dan endosperm. Bentuk sel parenkim bermacam-macam. Sel parenkim yang mengandung klorofil disebut klorenkim, yang mengandung rongga-rongga udara disebut aerenkim. Penyimpanan cadangan makanan dan air oleh tubuh tumbuhan dilakukan oleh jaringan parenkim.
Berdasarkan fungsinya jaringan parenkim dibedakan menjadi beberapa macam antara lain:
1)      Parenkim asimilasi (klorenkim) adalah parenkim yang terletak di bagian tepi organ dan di dalamya terdapat kloroflas. Contoh: daun dan batang yang berwarna hijau.
2)      Parenkim penimbun adalah parenkim yang terletak di bagian dalam tubuh. Contoh: empulur batang, akar dan umbi.
3)      Parenkim air adalah parenkim parenkim yang terdapat pada tumbuhan xerofit atau epifit yang berfungsi sebagai penimbun air untuk menghadapi msa kering. Sel-selnya besar, dindingnya tipis, tidak mengandung kloroflas, plasma selnya sedikit, vakuolanya besar-besar dan terkadang berisi lender.
4)      Parenkim penyimpan udara (aerenkim) adalah jaringan parenkim yang mampu menyimpan udara karena mempunyai ruang antar sel yang besar. Aerenkim banyak terdapat pada batang dan daun tumbuhan hidrofit.
5)      Parenkim pengangkut adalah parenkim yang sel-sel penyusunnya berbentuk memanjang menurut arah pengankutannya. Umumnya terdapat pada batang.
c.       Jaringan Penguat/Penyokong
Nama lainnya stereon. Fungsinya untuk menguatkan bagian tubuh tumbuhan. Terdiri dari kolenkim dan sklerenkim.
Ø  Kolenkim
Merupakan sel hidup dan mempunyai sifat yang sama dengan parenkim. Sel-selnya ada yang mengandung kloroflas. Umunya terletak di bagian dekat permukaan dan di bawah epidermis pada batang, tangkai daun, tangkai bunga dan ibu tulang daun.
Sel kolenkim biasanya memanjang sejajar dengan pusat organ tempat kolenkim itu terdapat. Dinding kolenkim mengandung hemiselulosa dan mengalami penebalan yang tidak merata, biasanya terjadi di sudut-sudut sel.
Berdasarkan penebalan dinding selnya kolenkim dibedakan atas:
1)      Kolenkim angular (kolenkim sudut) adalah penebalan dinding yang terdapat pada sudut sel dan memanjang mengikuti sumbu sel. Pada irisan melintang, epenbalan itu terlihat di sudut sel tempat bertemunya tiga atau lebih sel.
2)      Kolenkim lemelar (kolenkim lempeng) adalah penebalan dinding sel terutama pada dinding tengestial (sejajar permukaan organ) sehingga pada irisan melintang terlihat seperti papan berderet-deret.
3)      Kolenkim lakunar adalah penebalan yang terdapat pada bagian dinding sel yang menghadap ruang antar sel.
4)      Kolenkim anular (tubular) adalah penebalan dinding yang merata sehingga ruang antar sel (lumen) menjadi bentuk pipa
Fungsi jaringan kolenkim adalah sebgaai penyokong bagian tubuh tumbuhna muda yang sedang tumbuh
Ø  Sklerenkim
Merupakan jaringan yang sel-selnya mengalami penebalan sekunder dengan lignin atau senyawa lain. Biasanya skelereid terdiri dari sel-sel mati.

Menurut bentuk selnya, sklerenkim dapat dibedakan menjadi:
1)      Serabut terdapat di berbagai bagian tubuh tumbuhan, dapat juga berada diantara jaringan dasar tetapi pad umumnya terdapat pada berkas pengangkut. Dapat berupa sel tunggal di antara jaringan dasar tetapi pad umumnya bergerombol membentuk pipa, anyaman berbentuk silinder yang sejajar dengan permukaan tubuh.
2)      Sklereid terdapat di berbagai tubuh tumbuhan. Sel-selnya dapat mengumpul menjadi jaringan keras diantara jaringan yang lain yang lunak atau menyusun seluruh bangunan keras, misalnya kulit biji. Sel sklereid dapat pula membentuk iodoblas yaitu sel yang jelas berbeda dari sel-sel lain yang mengelilinginya baik bentuk, ukuran, maupun tebal dinding selnya.
Fungsi sklerenkim adalah sebagai penguat bagian tubuh tumbuhan yang sudah dewasa dan melindungi bagian-bagian lunak lebih dalam.
d. Jaringan Pengangkut
1. Xilem
Pada dasarnya xylem merupakan jaringan kompleks karena terdiri dari beberapa tipe sel yang berbeda baik hidup maupun tidak hidup. Dinding sel xylem tebal karena dilapisi oleh lignin. Fungsi dari xylem adalah mengangkut air dan mineral dari akar ke daun.
a. Trakeid dan trakea
Trakeid tidak terdapat perforasi (lubang-lubang) sehingga transport air dan mineral berlangsung lewat noktah antara sel-selnya.
Trakea, lubang-lubang terdapat pada ujung-ujungnya sehingga transport air dan mineral atau unsure hara lainnya dapat berlangsung antara sel yang satu dengan yang lain secra bebas melalui perforasi.
b. Serabut xylem
Struturnya serupa serabut sklerenkim. Meskipun asalnya dari trakeid yang berdiferensiasi lebih lanjut dengan dinding yang tebal dan noktah sederhana. Serabut dan trakeid saling melekat sehingga sulit dipisahkan tetapi pada umunya sel serabut lebih panjang dari trakeid karena ujungnya yang runcing dapat masuk diantara sel sewaktu memanjang.
c.    Parenkim xylem
Sel-sel ini merupakan sel hidup, terdapat baik pada xylem primer maupun xylem skunder. Pada xylem skunder parenkim tersebut berasal dari cambium yang membentuk sel jari-jari sehingga diperoleh sel-sel yang sumbu panjangnya mengikuti arah jari-jari organ.
2. Floem
Floem merupakan jaringan kompleks. Kadang-kadang ada sel atau jaringan sekretori yang bergabung di dalamnya. Fungsi floem adalah sebagai jaringan translokasi bahan organic yang terutama berisi karbohidrat.
Unsur-unsur penyusun floem:
a.       Pembuluh unsurnya terdiri dari dua bentuk yaitu sel tapisan yaitu sel tunggal dan membentuk memanjang dengan bidang tapisan yang terletak di samping atau ujung sel. Dan buluh tapisan yang berupa berkas-berkas sel memanjang yang masing-masing merupakan bagian dari buluh itu dan dihubungkan oleh satu atau lebih tapisan, biasanya terletak di ujung sel. Dinding sel pembuluh adalah selulosa dan tidakj pernah dijumpai penebalan lignin.
b.      Sel-sel pengiringa dalah sel-sel pembuluh yang diikuti oleh sel parenkim khusus. Sel pengiring tetap mempunyai nucleus pada waktu dewasa. Tidak dijumpai pada Gymnospermae dan Pterydophyta.
c.       Parenkim floem, secara fungsional sel parenkim ini  berintegrasi dengan sel pengiring. Bentuk selnya memanjang dan sumbu panjangnya sejajar dengan sumbu berkas pengangkut. Pada saat floem aktif, sel parenkim tidak mengalami penebalan dinding. Kemudian bila floem tidak berfungsi maka parenkim ini akan berubah menjadi skelrenkim atau felogen.
d.      Serabut, serabut ini membentuk dinding sekunder setelah selesai pertumbuhan memanjangnya. Umumnya penebalan ini berupa lignin atau selulosa.
3.       Berkas Pengangkut
Merupakan cirri khas dari jaringan pengangkut. Tipe-tipe berkas pengangkut:
a.    Kolateral dimana xylem dan floem letaknya saling berdampingan, umunya floem di sebelah luar xylem.
b.    Bikolateral dimana mempunyai urutan floem dalam, xylem, cambium dan floem luar.
c.    Konsentris dimana xylem membungkus floem atau sebaliknya.
d.    Radial jika xylem dan floem tidak membentuk suatu berkas karena dipisahkan oleh jaringan dasar.

























BAB II
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan anatomi dari Canna indica dengan menggunakan mikroskop cahaya terdapat beberapa jaringan diantaranya jaringan epidermis, jaringan parengkim, jaringan pengankut. Adapun hasil pengamatannya sebagai berikut:
1.      Akar  gbr...
2.      Batang  gbr..
3.      Daun gbr..
4.      Biji gbr...


 by.rzaNobet


Kamis, 31 Mei 2012

baca ajjaaa


dasar bodoh""""""""

Aku bodo aku bodohhh>>>>>>> sehingga banyak teman yang mulai risih dengannku,karena keberadaanku diagab sebangai parasit(KM yg soalnya 30 dan itu hanya benar satu dengan nilai 2) hmmmm  itu lah aku yang memiliki paggilan laougi “ikami”....

kebodohan ini aq bawah dari dulu, perna aku berminpih menjadi seorang yang pinter, jenius, smart, dan jadi tempat nyontek bagi orang orang sesamaku haaaaahaaaaahaaaa  namun minpi itu dipatahkan dengan kebodohan yang kurasakan,nasiiiipppp nasiiippp... apakah ini takdirkuw..
ohh nowww dengan penuh kesadaran bahwa q bodo’ ku usahakan tampil dengan penampilan yang menggertak yaa paling tidak nampang kayak orang pinter ajjja...
namunnn ujung ujungnya ketahuannn juga tuh buktinya uap antum yang remedi cuman aq>>....tampil beda tampil bedah tipiiii jangan yang gituu hmmmm sedih rasanya jdi orang bodo’’’’’ hai orang bodo kapan looww pinter pinter juga!!!!!!!
Ayooo mana suaramuuuu bukannnya lo yang punya suara gedde!!!!!!
Hemmmm dasar cemeenggg gimana mau pinter ngomong aja susah  tuhu buktinya di presentasi klompok 5 mk ekwan km di blacklis ma p.uss gara-gara tidak aktif dalam dikusi dan termasuk mahasiswa yang tidak perna bertanya. Ayooooo banta iyakan kamu orangnya kanyak gitu.iyaa
Jdiiii solusinya gimanadong tuhanq ayo bantu aq, mudahkan jalanq......
Satu pertanyaan yang ingin q tanyakan namun bukan pada guru, dosen, teman, family,maupun pacarrr?? (km kan g’ punyaaa huuuuu>>>>ngareppp hahaha kaciangg).. yaaa tidak lain kepada tuhanq yang mengetahui permasahan dan sutradara dari flm hidupq ini..
Its may GOD..... jka aq bodo dan diaggap parasit oleh hambamuw aku ihlas
              Jika aq di hina dan tidak sedik dari mereka yang menertawakanku itu adalah dia
              Jika aq harus merasakan itu .....akan qnikmati
namun kuberharap di hari esok keberadaanq adalah hambamu yang bermanfaan bagi negaraku, agamaku, dan orang yang ada disekitarq>>>amienn
sujudq padamu tuhanq ALLAH...engkau yang satu...










b'sambung>>>>

Senin, 02 Januari 2012

refleksi hasil diskusi ekologi tumbuhan

Refleksi kelompok 1
Peresentasi: hendy,reza,indri,nani
Judul:pengertian dasar dalam ekologi tumbuhan
Dari hasil persentasi yang kmi lakukan dapt disimpulkan sebagai berikut: Ekologi berasal dari bahasa Yunani “Oikos” (rumah tangga) dan “logos” (ilmu). Secara harfiah ekologi berarti ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup.
Ekologi merupakan disiplin ilmu baru dari biologi yang merupakan mata rantai fisik dan proses biologi serta bentuk-bentuk yang menjembatani antarailmu alam dan ilmu sosial (Odum, 1977)
Tujuan mempelajari ekologi tanaman adalah agar kita mengetahui teknik dan cara yang tepat untuk memanfaatkan apa yang ada di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Karena sesungguhnya Allah telah memberi peluang kepada kita melalui hasil ciptaannya. Namun, tentunya kita juga perlu menjaga lingkungan (hasil ciptaannya) sebagai wujud rasa syukur kepada-Nya
Menurut Ernest Haeckle ekologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk ekonomi alam, suatu kajian hubungan anorganik serta lingkungan organik di sekitarnya. Autekologi mengkaji hubungan antara 1 spesies terhadap lingkungannya contohnya mempelajari pertumbuhan jenis shorea leprosula dengan pengaruh intensitas cahaya.
Terapan yang dapat dilakukan sebagi implementasi ilmu ekologi tumbuhan diantaranya melalui : Pemanfaatan Pertanian Organik ,Penerapan system agroforestry, Ruang Terbuka Hijau, Hutan Kota, Taman pengelolaan limbah .


Refleksi kelompok 2
Ppresentasi:  (Susantika, Setia Novit dan Tetty Ariyanti)
Judul:tumbuhan dan lingkungan
Dari hasil peresentasi kelompok dua dapat diketahui bahwa alam lingkungan mempunyai eksistensi dari suatu organisme atau kelompok organisme tergantung pada keadaan lingkungan dengan istilahyaqng sering kita dengar dengan istilah faktor pembatas
Nische (nisia) atau relung : cara hidup atau respon organisme terhadap lingkungan.

Disamping itu pemateri juga menjelaskan bagaimana tumbuhan tersebut dapat mengalami stres dan Strategi tumbuhan tidak mengalami strees.tingkat ke stresan dari sebuah tumbuhan dapat di bagi menjadi dua :
Strees biotik : strategi tumbuhan terhadap herbivore
Strees abiotik : kelebihan air, kekurangan air, terhadap sanitasi, terhadap suhu.
Dimana lingkungan hidup dari organisme merupakan semua factor biotik dan abiotik yang potensial yang mempengaruhi organisme. Untuk lingkungan biotik dipengaruhi oleh suhu, cahaya, air, dan tanah. Pada biotik dipengaruhi oleh individu, populasi komunitas, dan ekosistem. Kelompok ini juga menjelaskan tentang factor pembatas Liebig serta hokum minimum Liebig. adaptasinya yaitu adaptasi morfologi ( xerofit, hidrofit), adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.

Refleksi kelompok 3
Peresentasi: (Eka Rahma, Veni Puspita dan Prieska Novita)
Judul:lingkungan abiotik dan biotik
 pengaruh cahaya dan suhu terhadap proses pertumbuhan tanaman (lingkungan abiotik) Dari presentasi yang dilakukan oleh kelompok tiga, saya bisa mengetahui bahwa suhu  merupakan faktor lingkungan yang dapat berperan secara langsung maupun tidak langsung terhadap organisme hidupl,seperti pada proses pertumbuhan tumbuhan.  Selain itu cahaya juga berperan sebagai sumber energi utama bagi semua ekosistem. Pada tumbuhan cahaya berperan sebagai  fotoperiodism, fotoenergetic, fotomorfogenesis, dan fototropisme.
Sedangkan lingkungan abiotik meliputi segala sesuatu yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. jelas bahwa cahaya dan segala komponen lingkungan abiotik sangat berpengaruh terhada pertumbuhan tanaman tersebut. tanaman membutuhkan cahaya atau sinar matahari untuk proses fotosintesis, tanah sebagai sumber untuk memperoleh segala unsur hara dll.
Respon tumbuhan terhadap intensitas cahaya dan panjang penyinaran. Lamanya penyinaran relatif antara siang dan malam dalam 24 jam akan mempengaruhi fungsi dari tumbuhan secara luas. Berdasarkan panjang hari, tumbuhan dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
·         Tumbuhan hari panjang
·         Tumbuhan hari pendek
·         Tumbuhan hari sedang
·         Tumbuhan hari netral
    

Presentasi  kelompok 4
Presentasi: (Ika Prastiwi, Anik Setyaningsih, Findha Enggar dan Chantika) 
Judul:Atmosfer dan air sebagai lingkungan abiotik yang mempengaruhi ekologi tumbuh

Dengan mempelajari atmosfer dan air sebagai lingkungan abiotik kita dapat mengetahui bahwa lapisan dari atmosfer merupakan gabungan dari berbagai gas-gas yang tidak dampak dan tidak berwarna, gas-gas atmosfer tersebut tersusun dari beberapa zat diantaranya: oksigen, nitrogen, argon, karbondioksida meliputi hampir 100% dari udara kering. Pada lapisan atmosfer terbagi menjadi 5 :
Troposfer, berada di porsi paling bawah dari atmosfer bumi.
Stratosfer, merupakan lapisan ke dua dari atmosfer bumi, di bawah troposfer, dan di atas mesosfer.
Mesosfer, merupakan lapisan atmosfer bumi yang jauh di atas stratosfer dan jauh di bawah termosfer.
Termosfer, merupakan lapisan terbesar dari atmosfer bumi, jauh diatas mesosfer dan jauh di bawah exsosfer.
Exsosfer, merupakan lapisan paling atas dari atmosfer bumi
sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.
Secara umum air digolongkan ke dalam 2 jenis yaitu :
•          Air tanah ( ground water ) adalah air yang terdapat di bawah permukaan tanah dan tidak dapat dilihat secara langsung. Air tanah ditemukan pada lapisan akifer yaitu lapisan yang bersifat porous (mampu menahan air) dan permeable (mampu memindahkan air).
•          Air permukaan (surface water), adalah air yang terdapat di atas permukaan bumi dan tidak terinfiltrasi ke dalam bumi.
Berdasarkan hal tersebut sudah jelas bahwa lingkungan disekitar tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor abiotik berupa atmosfir dan air. banyak sedikitnya air yang diperoleh tanaman juga akan mempengaruhi pertumbuha tanaman.

Presentasi  kelompok 5
Presentasi: Ilham Budi, Susan Aminah, Neni Lusiana dan Qurrhata A’yun/14 Desember 2011
Judul:faktor edafik (tanah)
                Pada kelompok ini membahas tanah, dan hasil dari pembahasan ini dapat diketahui tanah memiliki lapisan-lapisan dimana lapisan ini berbeda-beda pada lapisan tanah yang terkandung dalam tanah tetapi ada kalanya lapisan tersebut tidak mengandung unsur-unsur mineral, dll. hanya ada pada lapisan tertentu yang mengandung unsur-unsur tersebut yang mana digunakan dalam kehiupan suatu organisme misal pada horizon O, A, E, dan B. Begitu juga mikroba yang terdapat pada lapisan tanah ini juga menentukan karena terdapatnya unsur-unsur tanah yang berbeda sehingga tanah tersebut mengandung berbagai unsur-unsur hara yang di perlukan yang di dapat dari mikroba untuk pertumbuhan tumbuhan, tetapi jika kita lihat pada lapisan tanah yang terkhir kemungkinan mikroba juga hidup di sana karena terdapatnya air yang mengandung unsur” hara yang terbawa oleh air.

Presentasi  kelompok 6
Presentasi: berlian pratama, siti sholikah, risa lilies, dan fitri
Judul: populasi
Pada presentasi kali ini kelompok 6 membahas tentang populasi, dijelaskan didalamnya bahwa yang populasi merupakan kumpulan individu dari suatu jenis organisme. Dalam diskusi yang silakukan  kelompok ini sudah cukup baik dalam penyampaian materi dapat dimengerti oleh audience, Pada penanya pertama yaitu pada saudari Dista yang menanyakan tentang faktor yang mempengaruhi suatu grafik sehingga menimbulkan pola grafik eksponensial dan sigmoid, dan pemateri dapat menjawab dengan baik yaitu, ekponensial terjadi jika predator sedikit, nutrient banyak sehingga populasi pada daerah tersebut terus meningkat. Sedangkan grafik  sigmoid terjadi jika pertumbuhan terjadi secara lambat, dan penurunan jumlah populasi ketika tidak tersedianya apa yg dibutuhkan oleh spesies, seperti minimnya nutrient dan pertumbuhan terjadi jika tersedianya nutrient dan ketika tejadi persaingan antar spesies dapat terjadi penurunan jumlah populasi karena akan ada populasi ayng akan teriliminasi.

 Presentasi  kelompok 7
Presentasi: Lysa, Atia, Dimas, dan Dian.                                        
Judul:komunitas (vegetasi)
                Pengertian komunitas sendiri sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang sama.
kelompok ini mengambil sebuah contoh dimana pada organisme harimau yang memangsa kijang dimana harimau membutuhkan kijang untuk melangsungkan hidupnya(predasi).
 Sedangkan pada hubungan yang tidak erat adalah suatu hubungan organisme yang merugikan pada organisme tersebut atau tidak memberikan manfaat sama sekali, dan contohnya yang diambil mengenai  terjadinya  simbiosis parasitisme seperti pohon yang ditumpangi benalu dimana benalu ini dapat menghambat pertumbuhan pohon tersebut karena menyerap semua nutrisi yang ada dipohon tersebut.
 Dari presentasi kelompok ini, saya dapat mengetahui  beberapa  materi tentang komunitas yang selama ini saya belum ketahui. 

Rfleksi kelompok 8
Presentasi: Hatta, Rita, Ella, dan mb.Dista. Diskusi kali
Judul: metode analisis vegetasi

Sebuah Komunitas merupakan kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.

sedangkan metode analisis vegetasi yang mencangkup tentang analisis vegetasi, teknik pencuplikan, mengenal macam-macam peta vegetasi, membuat kurva luas minimum, serta menghitung kerapatan, frekuensi, penutupan (coverage), dominasi dan indeks nilai penting. metode analisis vegetasi ada 3,yaitu metode destruktif, metode florostika, dan metode non florostika.

dalam melakukan sebuah metode analisis vegetasi, metode yang paling efisien untuk digunakan yaitu metode non florostika,dikarenakan menggambarkan kerapatan suatu vegetasi, luas penutupan suatu populasi,penyebaran dari populasi suatu kawasan atau frekuensi.


Refleksi kelompok 9
Presentasi: Martha, Linata, Lita, dan Wanti.
Judul: Ekosistem

Dalam presentasi yang dilakukan oleh Kelompok ini membahas tentang ekosistem yang merupakan hubungan timbal balik antara komponen biotik (tumbuhan, hewan, manusia, mikroba) dengan komponen abiotik (cahaya, udara, air, tanah dsb) di alam. Yang menyebutkan, apabila salah satu komponen terganggu, maka komponen lainnya secara cepat atau lambat akan terpengaruh. Dicontohkan saja saat salah satu komponen dari rantai makanan itu terganggu, misal ular yang harusnya memakan tikus disawah populasinya menurun, maka populasi tikus akan terus bertambah dan tidak terkendali. Selain itu, dijlaskan juga tetang bagaimana interaksi antara lingkungan biotik dan abiotik, perputaran energi, sistem pertukaran energi, perputaran energi dan lain-lainnya.
            Menurut saya, presentasi dari kelompok ini bagus, tidak terlalu banyak tulisan dan banyak gambar dalam power pointnya. Penjelasan dari kelompok ini juga jelas, shingga mudah difahami. Harapan saya, agar hal ini bisa dipertahankan dan kelompok selanjutnya dapat mempresentasikan materinya dengan baik.




Refleksi kelompok  11
Presentasi: Dika, Pranoto, Dina, dan Ilmin
Judul: Ekosistem Aquatik

Dalam presentasi ini secara keseluruhan menjelaskan tentang Ekosistem pada mangrove, ekosistem pada terumbu karang, hutan pantai, rawa, ekosistem air tawar, ekosistem pantai, estuaria, ekosistem laut, bentos dan faktor pembatasnya.
Pada sesi tanya jawab ada tiga pertanyaan yang muncul yaitu dari Neni  Lusiana, Hendi Desniko, dan Susan Aminah. Pertanyaan yang pertama yaitu mengenai apabila kita membuat kolam dan kita isi dengan air dan tanah, apakah itu termasuk ekosistem aquatic?, pertanyaan yang kedua tentang hutan mana saja yang mempunyai Hutan mangrove di Indonesia?, dan pertanyaan yang terakhir mengenai penyusun karang yang terdiri dari alga dan hewan, dan jelaskan apa saja spesies yang menyusunnya?
Adapun jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut pertama dijawab oleh saudari Dika Wiwit yaitu tentang  termasuk dalam ekosistem aquatik tetapi kolam itu merupakan eksistem aquatik buatan. Jawaban kedua yaitu dijawab oleh saudara Pranoto Sakti daerah yang banyak ditumbuhi hutan mangrove antara ain di Sendang Biru Malang Selatan, Madura, dan didaerah Banyuwangi. Jawaban terakhir yaitu  Jawabannya adalah karang yang disusun atas alga pada spesies Zooxantelae dan Hewan yang ikut menyusun karang yaitu Anthozoa.
Pada presentasi kali ini dapat menambah pengetahuan saya tentang ekosistem aquatic khususnya tentang terumbu karang yang berada didalam lautan, tumbuhan mangrove, serta faktor-faktor pembatasnya. Dengan begitu membuat kita dapat menjaga ekosistem aquatic yang ada disekitar kita dengan tidak mencemari, merusak, dan menjaga kelestariannya.


Refleksi kelompok  12
Presentasi: Dwi Septi, Chasan, Retno, dan Ubaidillah.  
Judul: Suksesi

kelompok terakhir dari kelompok Presentasi ini disamapikan oleh Secara umum kelompok ini menjelaskan jenis-jenis dari suksesi, mekanisme suksesi itu sendiri, keseimbangan dalam proses suksesi, dan faktor- faktor pendukung yang berpengaruh terhadap suksesi.suksesi sendiri adalah suatu prose perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Jenis suksesi ada dua yaitu suksesi primer yang terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas hilang secara total. Dan juga ada suksesi sekunder yang mana kerusakannya tidak bersifat total sehingga masih ada kehidupan.
 Pada sesi pertanyaan yang muncul dari Ilham mengenai proses terjadinya suksesi pada suksesi sekunder dan bagaimana mengenai komunitas klimaks, dan jawaban di jelaskan oleh Dwi septi yaitu mekanismenya suatu biji terbawa oleh angin maupun hewan, ataupun makhluk hidup lainnya, apabila faktor- faktor pendukungnya dapat mempercepat pertumbuhan biji tersebut pada area yang akan mengalami suksesi, dan adanya nutrien pada media tumbuh memadai maka biji tersebut akan tumbuh menjadi perdu, dan apabila kondisi lingkungan mendukung akan tumbuh menjadi pohon-pohon dan berkembangbiak.


Jumat, 25 November 2011

PEMANFAATAN DAUN PALIASA SEBAGAI OBAT TRADISIONALPADA PENYAKIT HEPATITIS

Daun Paliasa secara tradisional sudah dikenal berkhasiat sebagai obat. Daun yang nama Latinnya itu Sterculiaceae tersebut konon dapat mengobat penyakit kuning (hepatitis).
Dulu, kalau hendak memanfaatkan daun ini, masyarakat cukup merebus dan lalu meminumnya. Kini, tidak perlu lagi seperti itu. Daun Paliasa kini sudah berbentuk kapsul, dengan beberapa varian produk yang bersumber dari ekstrak paliasa, misalnya the paliasa, dan susu kambing ekstrak paliasa.
Kalangan dosen Farmasi Unhas, sudah lama memikirkan untuk menyunglap obat tradisional ini menjadi sejenis kapsul yang bentuknya lebih bagus melalui hasil polesan pabrik atau manufaktur. Ternyata, mimpi Unhas itu terwujud.
Satu tahun silam, Rektor Unhas Idrus A Paturusi meneken kerja sama dengan Technology Park Malaysia (TPM) untuk melaksanakan proyek daun paliasa ini. Intinya adalah bagaimana daun yang sudah dikenal secara tradisional sebagai obat tersebut dapat diproduksi dengan hasil jadi dari pabrik farmasi.
Ternyata, hajat itu bagaikan gayung bersambut dengan dukungan dari Perdana Menteri Malaysia Tun Najib Abd.Razak, yang tak lain adalah putra Tun Razak yang berketurunan Bugis-Makassar. Tidak cukup dua tahun, produk usahasama TPM-Unhas itu sudah membuahkan hasil.
Pada 2 Maret 2011, tiga orang dari TPM melaporkan hasil produksi usaha kerja sama itu ke Rektor Unhas didampingi Wakil Rektor IV Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. disertai beberapa orang staf dosen Fakultas Farmasi Unhas di ruang kerja rektor.
Produk daun paliasa yang sudah dikemas cantik itu berupa kapsul, yang setiap 400 mg berisi 40 mg ekstrak paliasa. Ada juga teh premium paliasa dan susu kambing paliasa, eksrak susu kambing dan kondisioner makanan yang dibenarkan.
TPM merupakan satu lembaga yang di bawah Kementerian Riset Malaysia. Pelaksanaan proyek pabrikasi daun paliasa ini atas bantuan penuh PM Malaysia Tun Najib Razak. Setelah diluncurkan, produk daun paliasa ini akan go public dan PM Malaysia diharapkan hadir dalam acara itu.
Tanaman Unggulan
Prof. Dr. Nunuk Hariani Soekamto, MS, 55 tahun, dalam orasi ilmiah penerimaan jabatan guru besar bidang kimia organik bahan alam, di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis, 23 September 2010 mengatakan, daun paliasa dapat dimanfaatkan untuk obat hepatitis.
Sterculiaceae banyak ditemukan di Sulawesi Selatan, yang oleh masyarakat Makassar dikenal dengan nama paliasa, kata Nunuk kemudian menambahkan, tanaman ini termasuk salah satu dari 19 tanaman unggulan yang sedang dikembangkan sebagai antihepatitis
Selain itu, kata penyandang gelar doktor dari UGM itu, daun paliasa digunakan dan dipercaya berkhasiat sebagai obat yang mampu mengobati penyakit liver, hipertensi, diabetes, kolesterol, dan hepatitis dengan cara meminum air rebusannya.
Spesies tumbuhan lain yang masuk dalam famili Sterculiaceae antara lain subpeltatum dan P. celebicum yang dikenal dengan nama daerah banjoro. Masyarakat sering menggunakan tanaman ini ssebagai antidisentri, mengobati lubang pada gigi dan gatal-gatal.
Dalam orasinya berjudul “Biodiversity Sumberdaya Hayati Sulawesi Selatan Sumber Senyawa Bioaktif yang Prospektif sebagai Obat Baru’” Nunuk mengatakan, selain tumbuhan famili paliasa, famili Moraceaae khususnya, dan genus Artocarpus, juga banyak ditemui di Sulawesi Selatan.
Artocarpus digunakan sebagai bahan pangan, bahan bangunan, dan bahan ramuan obat tradisional, antara lain sebagai obat malaria, disentri, dan penyakit kulit. Salah satu spesies genus Artocarpus A fretessi Hassk yang dikenal dengan nama daerah maumbi, ditemukan di daerah Mangkutana Luwu Timur.
Pada jenis lain paliasa, yakni kleinhovia hospita, khususnya pada batang dan daunnya, berdasarkan penelitian Nunuk Hariani pada 2008, ditemukan satu senyawa golongan kumarin, yaitu 7-hidroksi-6-metoksi kumarin (skopoletin) (1). Senyawa ini mempunyai efek antihipertensi, antiinflamasi, dan antialergi dan dapat menghambat prostaglandin synthetase sebagaimana yang pernah diteliti oleh M.H. Farah dan Sauelsson G (1992).
Penemuan ini, kata Nunuk, yang menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada 1991, menunjukkan adanya korelasi antara penggunaan tumbuhan K.hospita secara tradisional sebagai obat hipertensi. Hasil uji farmakologi, yang diujicobakan pada tikus yang dibuat hipertensi dulu, infus daun tersebut juga dapat menurunkan tekanan darah.